SPIRIT ERA, [Gorontalo Utara]–Perkembangan teknologi digital di Kabupaten Gorontalo Utara yang kian pesat, kini diperhadapkan dengan ujian keamanan siber tingkat global.
Hal itu menjadi alarm bagi dunia Siber, khususnya dalam menjamin keamanan sistem instansi dan dunia vendor di Gorontalo Utara.
Salah seorang tim pengembang Teknologi Informasi Gorontalo Utara, Sidik Mohamad menjelaskan, pengumuman resmi tim pengembang “Hypertext Preprocessor” (PHP) pada 21 Oktober 2026 terkait dua kerentanan kritis pada inti sistem (core runtime) PHP memicu kewaspadaan tinggi.
Menurutnya, celah ini sangat penting mendapat perhatian, karena berpotensi memengaruhi infrastruktur digital pelayanan publik di daerah jika tidak segera dimitigasi.
Ia menggarisbawahi munculnya celah keamanan global berkode CVE-2026-109618 dan CVE-2026-109619 dengan CVSS 9,2 dari 10, termasuk skor keparahan sangat tinggi.
Kerentanan ini lanjut Sidik Mohamad, berpotensi memungkinkan eksekusi kode jarak jauh (Remote Code Execution) tanpa autentikasi pada sistem yang terdampak.
Meski demikian ia menegaskan, situasi ini sama sekali tidak terkait dengan kualitas atau kelemahan kodingan para vendor dan pengembang lokal yang selama ini membangun aplikasi di lingkungan Pemerintah Kab. Gorut.
Ia menilai, para vendor yang bekerja sama dengan pemerintah daerah adalah tim-tim hebat dengan kualifikasi mumpuni.
“Para vendor dan pengembang yang bermitra dengan instansi Gorut adalah orang-orang hebat yang sudah menulis kode aplikasi dengan sangat baik. Demikian juga, berbagai framework berbasis PHP yang digunakan di daerah juga sudah sangat teruji,” tandasnya.
Hanya saja dalam kasus ini, publik dan pengelola sistem perlu memahami bahwa bug kali ini tidak berada pada kode aplikasi atau framework buatan vendor, melainkan menyerang langsung pada ‘jantung’ atau mesin inti PHP tempat framework tersebut berjalan.
Artinya, sehebat dan sebersih apa pun kode yang dibuat, sistem tetap tidak luput dari risiko jika mesin utama di bawahnya belum diperbarui.
Lebih lanjut Sidik menjelaskan, dampak dari kerentanan pada tingkat core ini tidak bisa diremehkan. Keseriusan risiko ini bahkan tercermin dari langkah pencegahan sejumlah organisasi internasional, seperti NHS England Digital, yang menerbitkan peringatan siber resmi serta langkah beberapa lembaga di Eropa yang menonaktifkan sementara sebagian layanan digital mereka demi melakukan penyesuaian infrastruktur.
Untuk Kab. Gorontalo Utara sendiri, keberlangsungan portal informasi, sistem administrasi, dan layanan publik digital adalah urat nadi pelayanan masyarakat.
Oleh karena itu, Sidik menilai momentum ini harus dimanfaatkan sebagai ajang memperkuat sinergi antara instansi pemerintah, pengelola IT, penyedia hosting, dan mitra vendor.
“Ini bukan saatnya saling menunjuk atau meragukan kualitas aplikasi. Ini adalah momen untuk saling mendukung,” jelasnya.
Para vendor dan pengelola IT di instansi Pemerintahan di Gorut perlu bersama-sama melakukan audit teknis, mengecek versi runtime PHP di server, dan memastikan pembaruan keamanan resmi (seperti PHP 8.5.12, 8.4.27, 8.3.36, atau 8.2.35) telah diterapkan.
“Kecepatan kita merespons informasi teknis inilah yang akan menentukan ketahanan digital daerah,” tegas Sidik.
Instansi pemerintah dapat meminta konfirmasi tertulis mengenai versi PHP yang digunakan serta dokumentasi hasil pemeriksaan teknis dari pihak pengelola atau vendor.
Langkah proaktif ini penting agar status keamanan infrastruktur digital Gorontalo Utara dapat dipastikan berdasarkan fakta dan data teknis yang valid, bukan sekadar andaian.
Melalui pendekatan yang proaktif, edukatif, dan objektif ini, ungkap Sidik Mohamad, maka langkah mitigasi diharapkan dapat berjalan terukur, sekaligus memastikan seluruh pelayanan publik digital di Gorontalo Utara tetap aman dan beroperasi tanpa gangguan.[*]
Miton Modanggu


